Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Homeseorang pengembara yang nyambi jadi announcer di 102.3 Rase FM BandungJul 27, 2006

Blog EntryOct 27, '11 8:28 AM
for everyone
Seorang teman saya yang asli Jerman baru saja menjejakkan kaki untuk yang ketiga kalinya ke Indonesia. Pertama kali dia ke Indonesia adalah sewaktu saya SMA, dia siswa pertukaran pelajar ke SMA saya. Walaupun orang asing, tapi dia cinta banget sama kebudayaan Indonesia. Sewaktu SMA di Bandung, dia belajar tari jaipong dan sampai saat ini dia selalu menolak kalau saya mengajaknya berbicara bahasa Inggris, maunya ngobrol pakai bahasa Indonesia ("Ayolaaaah saya sedang latihan untuk TOEFL!" and she said "Tidak mau." Err..). Dan kali ini pun kita ketemu lagi karena dia kangen nonton film Indonesia. Untung saja di sela-sela ramainya film Indonesia bertema hantu-hantu nggak jelas, ada film Semesta Mendukung yang sarat akan budaya Madura. Sepanjang cerita dia terkagum-kagum akan keindahan Madura. Bahkan saat muncul iklan trailler Sang Penari yang bercerita tentang penari ronggeng, dia langsung bikin janji "Nanti bulan November kita harus nonton film ini!" ujarnya mantap.
Setelah nonton, kita makan-makan. Ada pembicaraan unik di sini. Ternyata dia selalu merasa tidak nyaman diperlakukan sebagai bule. Dia punya kebiasaan berenang di Hotel Horison dan katanya dia selalu saja diliatin orang-orang sana. "Mungkin saya dianggap aneh karena berenang sendirian di sana," begitu katanya. Begitupun saat dia wisata ke Kawah Putih, dia sampai diajakin foto bareng sama wisatawan lokal sampai sekitar 15 menit. "Saya bagaikan selebritis aja, disuruh pose begini, begitu," ujarnya sambil tertawa. Ada juga pengalaman saat dia dilihatin sama anak-anak kecil.
Dia: Anak-anak kecil itu ngeliatin saya terus-terusan seperti ketakutan.
Saya: Bukan begitu, biasanya anak kecil itu disuruh sama gurunya supaya berani melatih bahasa Inggrisnya dengan orang bule.
Dia: Tidak, sepertinya dia takut. Disangkanya bule itu monster atau sebagainya...
Saya: Errr.....
Saya tahu, di Bandung, bule masih suka dianggap aneh. Mungkin bukan aneh kali ya, tapi budaya kita seperti tidak terbiasa dengan ras berbeda. Ada juga yang bilang, "Beginilah mental bangsa yang terlalu lama dijajah oleh Belanda. Menganggap Barat selalu lebih baik." Bahkan saking kinclongnya imej ras kulit putih, sampai-sampai banyak wanita Indonesia yang menginginkan bersuamikan bule (padahal bule2 di Kuta kan pada kere). 
Saya sendiri kalau lihat bule selalu mengambil dua kali pandangan, memandangnya lebih lama dengan penasaran. Mungkin terpengaruh dengan budaya "Barat itu hebat" yang sudah terdoktrinisasi dalam kepala saya, namun saya lebih mengganggap bahwa "Bule? Banyak hal yang bisa dipelajari dari orang yang berbeda budaya.". Kenapa orang Indonesia suka melirik bule lebih lama dibandingkan ras lain? Kalo orang Asia Timur seperti Jepang dan Korea, paling ujung2nya disangka Cici dan Koko keturunan Tionghoa di Indonesia. India? Paling disangka keturunan India di Tanah Abang. Afrika? Paling disangka orang Papua. Bule? Pasti disangka turis, karena keturunan Belanda di Indonesia suka keliatan peranakannya, jadi nggak bule banget. Duuuh, kok obrolan gw jd rasis gini ya? Ups!
Bukan bermaksud buat rasis. Namun sepertinya orang Bandung memang masih belum terbiasa dengan hal-hal yang datang dari luar. Pernah dengar teori bahwa orang pesisir lebih mudah menerima budaya luar masuk? Coba lihat Bali dan Kepulauan Seribu, kalo nemu turis cuek-cuek saja tuh. Sedangkan di Bandung, liat mobil plat B saja sudah disinisin karena dianggap macet-macetin Bandung. Hahahhahah...
Well, gue yakin, dengan makin tingginya teknologi media sehingga semua hal dari luar bisa begitu mudahnya masuk ke pribadi orang, dengan makin baiknya sarana transportasi, Bandung akan sangat mudah dimasuki orang (dan budaya) luar walaupun tidak berada di pesisir. Mungkin beberapa tahun ke depan, orang-orang bule ini nggak akan lagi dilihat aneh. Tapi dianggap orang biasa yang sedang menikmati Bandung.
 



Blog EntrySep 27, '11 8:10 PM
for everyone
Obrolan yang bilang bahwa "Di Padang nggak ada Rumah Makan Padang" ternyata saya alami di Madura, "Nggak ada tukang sate di Madura".

Sewaktu saya berencana mengunjungi Pulau Madura seminggu sebelum lebaran tahun ini dalam rangka 40 harian kematian nenek saya, beberapa teman memberikan beberapa pesan, bukan pesan oleh-oleh seperti kebanyakan dilakukan oleh orang Indonesia saat kerabatnya akan bepergian (memangnya saya mau bawa oleh-oleh apa? kuda lumping? garam laut? di sini belum ada suvenir Jembatan Suramadu) , tapi pesan untuk "Jangan lupa cicipin sate dan bubur kacang ijo khas Madura tepat di tanah asalnya." Hmmm... mengingat saya adalah culinary hunter sepertiya ide itu bagus juga.

Maka dari itu sesampainya di rumah Alm. nenek saya, saya langsung berpesan pada bude-bude saya, "Nanti sore saya mau makan sate madura sama bubur kacang ijo ya!". Tapi jawabannya ternyata mengejutkan, "Mana ada sate madura di sini?". Errr... 

Sebelumnya saya pikir warung sate itu ada di setiap sudut desa di Madura, sama halnya seperti kita ingin makan pecel lele di Bandung. Nyatanya, saya harus menempuh perjalanan dengan mobil sekitar 3-4 KM untuk mencapai Tanah Merah, pusat keramaian Bangkalan. Ya ampyun, jalan aspal di Madura jelek amat, aspal paling bagus adanya cuma di depan kantor dan rumah bupati. Hahaha. Padahal Bangkalan itu termasuk kecamatan yang paling besar di Madura lho.. weleh.

Sesampainya di Tanah Merah, saya mulai jelalatan mencari tenda warung sate. Dan ternyata.... dari segitu ramainya Tanah Merah, tenda yang jual sate cuma ada dua tenda! dan itu pun baru buka. Saya memesan ke salah satu tenda yang kata saudara saya paling enak dan potongan daging satenya paling besar. Nama warungnya "SATE SURAMADU" tanpa embel-embel Madura dalam tulisan itu. "Bu, pesen satenya 100 tusuk!" si Ibu penjualnya (yang dandanannya menor bgt dan berpakaian khas Madura dengan kain penutup kepala) langsung kaget dan buru-buru ngitung tusukan daging mentah di warungnya. "Cuma ada 90 tusuk, 10 lagi saya ambil dari warung sebelah ya (yang notabene ukurannya nggak sebesar sate di warung si Ibu)." Ebusett, jualan sate, baru buka, dan cuma nyediain 90 tusuk untuk dijual! Alamaaak! Kalo di Bandung, satu warung sate bisa jual sampai beratus-ratus tusuk sate! 

Next destination, bubur kacang ijo! Seperti yang kita sering jumpai di Bandung, Jatinangor, Jakarta, dan banyak daerah lain di Indonesia. Bubur kacang ijo khas Madura dikenal sebagai bubur kacang ijo paling enak se-Indonesia. Bagaimana dengan di Madura sendiri? Bude saya menjawab, "Bubur kacang ijo? Dimana ya ada toko bubur kacang ijo?" Doeeeeenng! 
Bude saya yang lain, yang sudah lama tinggal di Jakarta menambahkan, "Di Jakarta, bubur kacang ijo khas Madura itu terkenal sekali lho! Enaaaak!". Dan bude-bude yang asli orang Madura di rumah malah kaget, "Mosok tho?". Kalau saya mau cari bubur kacang ijo, saya harus menempuh sekitar beberapa kilometer lagi dari Tanah Merah untuk menemukan warung bubur kacang ijo, itu pun nggak tau apakah warungnya buka atau tidak. Huayaaah!  

Akhirnya saya menemukan beberapa hal menarik seputar kebiasaan kuliner orang Madura yang bikin warung sate dan bubur kacang ijo nggak terlalu populer di tanahnya sendiri:
1. Orang Madura ternyata lebih suka makan di rumah kumpul bersama keluarga (beda banget sama kebiasaan orang Bandung saat ini yang doyan jajan di luar buat icip-icip kuliner). Menurut mereka, lebih enak kumpul dan makan bersama keluarga. Lagipula nggak enak saya keluarga yang sudah masak kalau kita malah makan di luar. Bahkan walaupun ada undangan buka puasa bersama, maka mereka baru akan datang ke tempat undangan sehabis shalat taraweh. Pas saya bawa satenya ke rumah, yang makan juga nggak terlalu banyak. Lebih banyak yang makan masakan rumah.
2. Di Madura lebih banyak warung bebek goreng daripada warung sate dan burjo.Ada juga martabak petis yang juga lebih sering disajikan untuk tamu dari luar kota.
3. Orang Madura lebih suka merantau, di perantauan ya jual sate sama bubur kacang. Pedagangnya pada di luar Madura semua kali yah. Hahaha.
4. Menurut saya, sate madura justru lebih enak yang saya cicipi di Bandung dan Jakarta. Potongan sate di Madura memang lebih besar dan isinya daging semua (nggak seperti di Bdg dan Jkt yang dicampur gajih dan kulit), tapi cara masaknya kurang mantep. Sate dibakar di api yang berkobar sangat besar, tidak seperti di Bdg yang dibakar di api kecil sehingga matangnya lebih merata. Pas ditanya kenapa apinya besar banget, si ibu penjualnya menjawab, "Ya biar cepet mateng ta'ye!".
5. Oh ya, kebanyakan ibu-ibu penjual sate menggunakan baju khas Madura, yaitu korset yang menggunakan luaran kebaya renda-renda semi transparan. Habis nerima duit, duitnya di simpan di kantong yang nempel di korset. Bahahaha, kayak takut dicolong aja. Bude saya menambahkan, "Ini masih mending, dulu disimpennya di dalem beha!". Bahahaha. Makin ngakak! Siapa yang berani ngambil duit receh di beha ibu-ibu Madura yang suaminya bawa clurit?

FYI, clurit selalu dibawa oleh kaum laki-laki di Madura bukan hanya untuk melindungi diri, tapi untuk menunjukkan status sosial dan keberanian seorang pria.
 



Photo AlbumSuramadu BridgeAug 26, '11 1:27 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Jembatan yang menghubungkan Surabaya - Madura ini diklaim sebagai jembatan terpanjang Indonesia. Sepanjang apa? Tanjung Perak - Madura bs ditempuh selama 15 menit.

Terbagi jalur sepeda motor dan mobil. Sehingga bs kita temui tukang ojek di sepanjang pintu tol untuk orang Madura yang bekerja ke Surabaya.

ReviewReviewReviewReviewAug 15, '11 10:50 AM
for everyone
Category:Other
Kue Keju Gula Semut dr Borodino Cookies bisa dibilang merupakan kue kering terbaik yang pernah gue cicipi. Berikut review yang pernah gue tulis untuk majalah Bandung Food Gallery beberapa bulan lalu.

Keunggulan kue Borodino terletak pada resep home made yang telah diturunkan secara turun temurun dari sang nenek yang kemudian dikembangkan oleh sang cucu yaitu Bu Watty, owner dari Borodino. “Nenek saya suka membuat kaastengels dan nastar. Resep itu kemudian saya kembangkan dan sampai sekarang telah menghasilkan 30-an jenis kue kering.”
Salah satu kue yang paling banyak dipesan adalah Kue Keju Gula Semut. Tidak seperti kaastengels pada umumnya yang hanya memakai keju, Bu Watty menambahkan taburan gula palem di atasnya yang membuat kaastengels ini terasa lebih gurih dan crunchy di lidah.

Ada juga Kue Salju Strawberry yang baru saja diluncurkan pada Lebaran lalu. Bu Watty mengkreasikan kue salju yang biasanya hanya ditaburi gula halus dengan menambahkan rasa stroberi.

Borodino juga mengembangkan Kue Nastar dengan taburan keju cheddar, Kue Lidah Kucing dengan rasa coklat, dan masih banyak kreasi lainnya. Selain kue kering, Borodino juga menerima pesanan kue basah seperti Peach dan Banana Pie, Cheese Cake, Chocolate Cake, sampai appetizer khas Rusia yaitu Julien, sejenis cream soup yang dilengkapi dengan mayones, jamur, dan ayam.

Disarankan Foodlovers memesan terlebih dahulu sebelum datang ke Borodino. “Supaya kue yang diberikan bisa fresh from the oven,” jelas Bu Watty. Kue kering Borodino bisa tahan sampai enam bulan.

Selengkapnya baca Bandung Food Gallery Magz edisi #7...
BORODINO Cakes and Cookies

Jl. Cendana No.8
Tlp. 022-7210091 – 91578114
HP. 081320109266


Blog EntryJul 29, '11 10:05 AM
for everyone
Bila Anda merasa bahwa Bali terlalu jauh atau masih belum terjangkau oleh kocek Anda, maka Pulau Tidung yang berada di Kepulauan Seribu Jakarta bisa menjadi 'pemanasan' liburan Anda sebelum menjelajahi Pulau Dewata.

Akhir-akhir ini wisata ke Pulau Tidung mulai dilirik oleh wisatawan lokal, terutama kaum muda dan backpackers, untuk dikunjungi. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari ibukota serta tarif ongkos dan akomodasi yang tidak terlalu mahal menjadi alasan mengapa pulau ini menjadi pilihan. Apalagi dengan banyaknya agen travel dan komunitas backpackers yang menawarkan paket wisata murah meriah melalui akun facebook dan twitter, yang makin mempermudah wisatawan untuk mengunjungi Pulau Tidung. Harga paket wisata dua hari semalam dibandrol mulai dari harga 200 - 500 ribu rupiah. Harga tersebut sudah termasuk transportasi, akomodasi, paket snorkling, barberque, dan penyewaan sepeda. Cukup terjangkau, bukan? Kebetulan saya mengikuti tur Pulau Tidung ini melalui acara ulin bareng yang diadakan oleh admin-admin twitter di Bandung sehingga saya bisa mendapatkan paket wisata dengan harga cuma 150 ribu rupiah!

Rasa lelah melewati perjalanan empat jam dari Bandung ke Muara Angke dengan bus  disambung dengan perjalanan laut menuju Pulau Tidung selama tiga jam rasanya terbayar sudah begitu kita menemui air laut Pulau Tidung yang jernih. Pasir putih berpadu dengan air laut yang berwarna biru dan turquoise menjadikan pemandangan ini sangat cantik saat matahari mulai bersinar. Pulau yang masuk dalam perairan dangkal ini sangat cocok untuk latihan snorkling bagi pemula. Ikan-ikan kecil disertai terumbu karang jelas terlihat melalui gelombang air yang cukup tenang. Mencoba banana boat maupun kano juga bisa kita jajal dengan harga yang cukup terjangkau.

Pulau Tidung sendiri terdiri dari dua pulau, yaitu Pulau Tidung Kecil dan Pulau Tidung Besar. Kedua pulau ini disambungkan oleh Jembatan Cinta yang terkenal itu. Mengapa dinamakan Jembatan Cinta? Menurut saya, ini hanya seru-seruan objek wisata saja. Masyarakat lokal sendiri bilang bahwa yang memberi nama ini sebenarnya adalah wisatawan yang konon mendapatkan pacar di jembatan ini. Sejak saat itulah dipercaya bahwa bila kita terjun dari jembatan ini bersama kekasih, selanjutnya akan berjodoh. Terlepas dari mitos dan cerita yang mewarnai Jembatan Cinta, mencoba terjun dari jembatan ini memang memberi sensasi tersendiri. Terjun dari jembatan yang sebenarnya tidak terlalu tinggi ini bisa menjadi ajang uji nyali yang mengasyikkan.

Pariwisata Pulau Tidung mulai menggeliat sejak dua tahun terakhir ini. Bahkan pengunjung bisa mencapai 5.000 orang saat akhir pekan. Beberapa proyek pun mulai dibentuk seperti rencana pembuatan taman dan penggalakkan semboyan Tidung, Keep It Clean yang akan menyambut kita sesampainya di dermaga. Pariwisata tentu meningkatkan pendapatan  masyarakat lokal. Kini selain bekerja sebagai nelayan, banyak warga yang mulai menghidupi diri dengan menyewakan rumah sebagai penginapan, menjual jasa tour guide, sampai berdagang suvenir khas Kepulauan Seribu seperti kaos, dodol rumpul laut, dan kerajinan kerang. Melalui perjalanan ke Pulau Tidung inilah saya bisa melihat bahwa suatu objek wisata yang mungkin awalnya tidak terjamah, namun apabila dikelola dengan baik, bisa menjadi satu nilai untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat itu sendiri.



Blog EntryJul 18, '11 10:56 AM
for everyone

KUSADASI

       

         Selain Istanbul, kayaknya kawasana AGT (Anak Gaowl Turki) adanya di Kusadasi. Apalagi kedatangan rombongan tur gue adalah tepat di malam minggu. Kusadasi berlokasi tepat di samping laut Aegean. Pantainya sempit, sehingga kebanyakan orang datang hanya untuk piknik atau memancing di sana. Bahkan, katanya, walaupun sedang musim panas di sana, orang-orang hanya datang untuk sekedar berjemur karena pantainya tidak bisa digunakan untuk berenang atau surfing. Apartemen dah hotel yang berjejer di sana pun kebanyakan hanya akan ramai terisi saat musim panas. 

Asiknya, sepanjang pinggir pantai Kusadasi, trotoarnya luas banget dan bahkan beberapa

 lokasi menyediakan taman bermain dan open air fitness center, perlengkapan olah raga yg bisa digunakan oleh umum dengan pemandangan langsung ke pantai. Nggak tua, nggak muda, memanfaatkan fasilitas olahraga ini dengan enaknya (ya iyalaaah, olah raga dgn pemandangan yg ajib punya!).

Lalu, kenapa gue menyebut bahwa Kusadasi adalah tempat gaulnya AGT?

                Saat malam, di pinggir pantai Kusadasi (hmmm… ada lokasi yang mirip alun-alunnya Kusadasi) diadakan panggung musik. Musiknya dustak-dustak house music Arab-Turki dan ada juga pertunjukkan hip-hop free styler. Di seberang pantai, muda-mudi pada nongkrong di café untuk sekedar minum teh atau main gaple (iya benar, mereka bukan main catur, tapi main GAPLE!). Cewek-cewek Turki pun muncul dengan baju-baju yang fashionable. Dan nggak seperti di Jakarta dimana orang kalau mau nongkrong kudu nemu café atau kios dulu, di Kusadasi terdapat banyak bangku umum ataupun kursi yang sengaja disediakan di tengah jalan untuk jadi temapt duduk-duduk. Nice!

                Oh ya, ada pemandangan menarik yang gue temui di Kusadasi. Berhubung kebanyakan cafe memiliki tempat indoor dan outdoor, jelas pengunjung yang duduk di bagian outdoor akan kedinginan saat malam datang dan angin mulai kencang.

And u know what ? Pelayan cafe akan memberikan selimut untuk menghangatkan pengunjung ! Tapi cuma untuk pengunjung wanita. Hmmm… entah apakah pakaian wanita Turki lebih tipis atau terbuka dibandingkan cowoknya, atau memang pengunjung cowok dianggap lebih tahan dingin dibandingkan pengunjung wanita. Atau…. Pelayang cafe Kusadasi memang sangat perhatian terhadap wanita. Aawww…pengen dong diselimutin….




ReviewReviewReviewJul 13, '11 9:31 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Travel
Author:Getaway
Beberapa minggu ini saya sedang on fire nyari-nyari informasi soal travelling, beli buku2 backpacking, follow agen2 travel di twitter, buka2 web, sampai ngecek tiket online booking pesawat low budget hampir tiap hari. Sampai akhirnya saya menemukan majalah ini.

GETAWAY MAGZ!

Sy membeli majalah yang baru perdana terbit bulan ini karena tiga hal:
bonusnya yang berupa sandal (yg pasti bakal kepake), harganya yang nggak terlalu mahal, dan taglinenya "Smart Travelling for Young Adults". Saya berharap majalah ini isinya benar-benar bt travelling 'pintar' dan irit bagi kaum dewasa muda seperti saya.

Dan ternyata isinya memang bener2 ngasih sesuatu yang fresh buat saya! Nice magz in the nice time.
Ada info soal Pulau Tidung, dimana akhir bulan nanti saya akan ke sana dalam rangka ulin bareng. Ada informasi soal Bangkok juga, kota yang memang sedang jadi target destinasi saya untuk next trip. Selain info soal tempat wisata, ada juga informasi soal penginapan (bukan cuma penginapan dalam negri, tp luar negri juga ada!), info gadget, shopping, dan fashion (sebenernya soal fashion gak penting-penting amat sih, backpacking kadang nggak butuh baju bagus. hehe).

But anyway, majalah ini cukup enak buat kita baca. Konten-kontennya unik dan menarik. Cocok untuk kita yang pengen bacaan soal travelling yang ringan dengan info tempat wisata yang nggak sulit 'dijangkau' :)


Blog EntryJul 8, '11 1:06 PM
for everyone
Ini dia buku yang bikin saya muter otak lagi kalo disuruh milih ikutan package tour agen travel atau milih backpacking. 

Dulu, kalau kita mau jalan-jalan ke tempat yang asing bagi kita, apalagi ke luar negri, pasti mikirnya macem2. Kalo nggak ngerti bahasanya gimana? Pasti mahal yah? Duitnya nggak cukup euy... dll. Dan akhirnya karena takut ini itu, kita memilih untuk menggunakan jasa agen travel, tp karena jalan-jalan pake agen itu mahal, akhirnya kita malah urung dan nggak jadi jalan2.

Tapi sejak saya baca buku ini, apalagi berkesempatan untuk ngobrol dan diskusi bareng penulisnya, Cayi dan Gelbo. Semangat saya langsung berapi-api untuk merencanakan jalan-jalan ala backpackers, ke luar negri.Apalagi saat Gelbo bilang, "Saya ke Jepang dua minggu dengan rencana budget 7 jt rupiah." Uwapaaaaaaa?!

Ternyata eh ternyata, jalan-jalan ke luar negri itu bisa kita hemat dari berbagai macam cara. Misalnya,
1. Cari tiket bukan hanya untuk Jkt-negara tujuan PP. Tapi kita bisa cari penerbangan dari Singapura atau Kuala Lumpur. Cayi dan Gelbo emang beruntung banget bs dapet tiket GARUDA (Iya, GARUUUUDAAAA) gretong karena ngajuin proposal. Tapi Garuda saat ini juga sedang baik-baiknya ama turis-turis kere, akhirnya mereka suka mengeluarkan promo tiket murah. Bahkan katanya 3 jt bisa PP klo kita berangkatnya berkelompok. Tapiiii, Gelbo juga ngasih tips, bahwa naik Air Asia via KL, harganya bisa cm 800rb sekali jalan. Banyak jalan menuju Roma, pasti lebih banyak jalan menuju Jepang, kan lebih deket....

2. Cari-cari kenalan biar bisa nginep gratis. Saat ke Jepang, Cayi dan Gelbo memanfaatkan kenalan untuk bisa bobok gratis sehingga pengeluaran untuk hotel bisa dikurangi. Misalnya lewat jejaring www.couchsurfing.org yang merupakan facebook-nya para traveller. Kenalan dari situ, kita bisa numpeng nginep di rumah traveller yang negaranya kita tuju. Bukan cuma itu saja, kita bisa juga belajar tentang kehidupan sehari-hari mereka. Selain lewat couchsurfing, bisa juga kontak2 PPI di negara tujuan. Apalagi orang Indonesia kan biasanya royal ama tamu senegara, berdoa saja semoga dijamu makanan gratis. heuheu...

3. Museum gratis? ternyata banyak lho... cari-cari aja di web. Wisata ke luar negri, museumnya juga pasti menarik perhatian kita. Cari yang grateeees. Tiket masuk tempat wisata juga bisa kita dapat dengan harga terjangkau kalau kita pesan via online perpaket sebelum kita berangkat ke negara tujuan.

4. Makanan di Jepang mahal? Ya akal-akalin dong. Di Jepang tersedia nasi instant yang harganya cuma 100 Yen, lauknya tinggal bawa rendang atau abon dari tanah air. ada juga fast food seperti apple pie-nya McD yang (katanya) enyaaak bgt dan harganya cuma 100 Yen. 

5. Solat di Jepang kumaha? Cari masjid kan jauuuuh. Solat aja di taman. Ditemani oleh angin sepoi-sepoi lagih. Dan ternyata ini juga sering dilakukan oleh pelajar muslim yg gue temui di Tohoku University, yaitu solat di taman atau di atap gedung kampus.

Itulah sedikit tips yang bisa gue share di sini... Semoga bermanfaat. Jalan-jalan sekarang nggak harus mahal, asal nekat aja. Kayak Cayi dan Gelbo. Kaga bisa bahasa Jepang, tapi mereka duluan yang ke Jepang daripada gue. Hahaha..


Blog EntryJun 30, '11 11:11 AM
for everyone
Di Jepang, kota yang terkenal karena makanannya yang enak adalah Osaka dan Sapporo. Namun karena saya tidak sempat mengunjungi dua daerah tadi dalam program Jenesys, maka menikmati makanan Utsunomiya, ibukota Tochigi, sudah cukup membuat mulut saya ketagihan masakan Jepang!


Sebelumnya, saya tidak tahu apa itu daerah Tochigi, apa itu Utsunomiya. Yang saya baca dalam buku panduan Jenesys, Tochigi merupakan daerah pertanian di Jepang. Di sini kami akan melakukan kunjungan seputar keamanan hasil produk pertanian Tochigi dari radiasi nuklir pasca kebocoran PLTN Fukushima.

Well, ternyata pasca bencana, pertanian Tochigi pun mengalami pukulan yang sangat berat. Bukan karena lahan mereka yang tersapu tsunami, tapi akibat radiasi nuklir yang mencemari produk pertanian mereka. Beberapa produk pertanian yang ditanam dalam greenhouse aman karena terhindar dari radioaktif, namun yang rawan adalah tanaman hortikultura yang tidak menggunakan greenhouse. Karena itulah pemerintah memutuskan untuk melakukan sample testing setiap hari. Kalau tercemar, maka pemerintah memutuskan untuk tidak menjualnya. Kasian para petaninya... Karena tanaman mereka tercemar, maka mereka merugi dan kehilangan pekerjaan. Bukan hanya petani yang tanamannya tercemar, petani yang tanamannya aman pun jadi merugi karena masyarakat sudah keburu takut duluan membeli produk petani Tochigi. Mau jual tanah? Ternyata daerah mereka bukanlah daerah yang laku untuk dijual seperti lahan diperkotaan, anak-anak muda juga sudah tidak terlalu banyak yang mau bertani. Rumor yang beredar di masyarakat turut menambah kerugian bagi petani hingga ratusan juta yen. Masih banyak negara yang belum mau menerima produk Tochigi. Kerugian bukan hanya dari sisi pertanian, tapi juga sarana pertanian seperti saluran irigasi.

Lalu apakah produk pertanian Tochigi sudah aman?

Yang jelas, setiap hari pemerintah mengeluarkan brosur tentang produk apa saja yang aman dan produk apa saja yang tercemar. Sayuran yang terkontaminasi dibakar, tanah yang terkontaminasi dikeruk. 

Masyarakat digerakkan untuk mulai menggunakan produk pertanian Tochigi (ada program "Tochigi Tabeyou!" atau "Ayo Makan Tochigi!") sehingga petani yang memiliki sayuran yang tidak terkontaminasi jadi rebutan masyarakat dan rumah makan. Semua restoran yang saya datangi selama di Tochigi, menggunakan produk pertanian dari Tochigi. Saya sih percaya saja bahwa makanan ini tidak tercemar radioaktif (lha wong saya dan rombongan kan tamu negara yang diundang untuk melihat Jepang pasca bencana, pasti di-service yang terbaik *sombongnya saya*) dan pengelola restoran seperti Romantic Village (nama Romantic diambil dari Romantic Road, bukan 'romantis' dalam arti sebenarnya) yang memastikan bahwa makanan mereka aman. Yang jelas, dari tiga daerah yang saya kunjungi, Tochigi, terutama Utsunomiya, memiliki masakan yang paling enak dibandingkan Tokyo dan Sendai. Tempura, mie dingin, takoyaki, semuanya enyaaaaaaak....! Nyam!

Blog EntryJun 30, '11 3:15 AM
for everyone
H-1. Sebelum gw bepergian keluar negri, gw selalu punya kebiasaan untuk cr2 info ttg negara yg bakalan gw datangi, bahkan walaupun gw ke sana barengan sama rombongan tur yg notabene udah ada turguide nya. Nggak lengkap aja sih mnrt gw klo kita sama sekali gak tau ttg negara yg akan kita kunjungi. Dan juga ada sedikit perasaan trauma juga gr2 dulu wkt gw ke turki gw ga tau apa2 jadinya hari2 pertama gw cm bs cengok dengerin tur guide ngejelasin lalalala. Dan hal ini pula yang gue lakukan saat gw akan mengikutin perjalanan seminggu ke Jepang lewat program Jenesys 2011.

Jepang bkn lah negara baru dalam hidup gw. Sejak SMP gw suka kartun2 jepang, zaman SMA gw mulai belaJar bhs jepang, dan waktu kuliah gw ngambil jurusan bhs Jpg. Pengetahuan soal jepang udah lumayan tau, tp tetep aja wkt mau brgkt gw tetap browsing2. Thank GOD, krn thn 2011 gini blog dan buku Panduan travelling udah banyak bgt bs kita dapetin. Saat ini buku panduan gw adalah Jalan2 Hemat nya Claudia Kaunang (Keliling Jepang 2,5 Jt). And u know what? Buku tersebut ternyata laku dibaca sama peserta Jenesys lainnya yang pengetahuan soal jalan2 jpgnya lbh dikit dr gw.

Apa sih manfaatnya baca buku panduan jalan2 sebelum pergi keluAr negri? Padahal fasilitas internet kan udah ada dimana2. Pertama, buku panduan biasanya ada keterangan detail, tmasuk soal sarana transportasi utk mencapai tmpt tujuan. Kedua, buku panduan bs ngasih referensi tmpt mana aja yg asik bt kita kunjungi. Ketiga (ini jg yg gw suka dr bukunya claudia kaunang) adl referensi oleh2 apa yg bs beli di sana. Seperti kebanyakan org indonesia yg punya sodara2 segambreng, gw selalu bingung klo mo beli oleh2. Apalagi gw orgny males nawar dan gak tau harga aslinya brp (tau laaaah klo di indonesia kan turis selalu apa2 dimahalin, gw takut digituin juga klo di luar negri). Dari buku panduan itulah gw dpt referensi bukan hanya dimana gw bs membeli barang2 tsb, tp juga harga2nya :)

Ayooo mulai membaca!

Blog EntryJun 29, '11 9:48 PM
for everyone
"Kehidupan orang Jepang akan berubah pada musim panas tahun ini," begitu kata Hawe, seorang pelajar Indonesia yang saya temui di Tohoku University saat kunjungan program Jenesys minggu lalu.

Kerusakan PLTN Fukushima sebagai penyuplai sebagian besar listrik Jepang Timur memberikan dampak yang cukup signifikan bagi penduduk Jepang. Karena berkurangnya suplai listrik, pemerintah memberlakukan peraturan hemat listrik bagi warga Jepang. Dan ini saya alami sendiri saat mengunjungi beberapa tempat di Jepang Timur. Di kantor Nikkei Inc di Tokyo, seharusnya saat kita memasuki lobby, maka kita akan disambut oleh layar besar yang menayangkan info ekonomi dan bursa saham, namun karena peraturan hemat energi, maka layar tersebut hanya menjadi layar putih saja.

Bukan hanya di Tokyo, kantor Pemda Tochigi pun mengurangi pemakaian AC di kantor mereka. Bahkan penggunaan listrik di toiletnya pun dikurangi dengan minimnya cahaya dan matinya penggunaan tombol sound, shower, dan bidet (tenaaaang, tombol flush masih jalan kok! hehe). Penggunaan lampu juga diminimalisir. Saat saya jalan-jalan ke daerah Utsunomiya yang merupakan ibu kota Tochigi, suasana malam cukup gelap. Kebanyakan toko tutup. Ternyata saat ini sedang diberlakukan pemerintah untuk mematikan lampu bagi toko dan area perkantoran di atas jam 9 malam.

"Bayangkan saja, saat musim panas nanti, lab tidak akan menggunakan AC!" tambah Hawe lagi. Program hemat energi yang kebetulan berlangsung saat memasuki musim panas di Jepang membuat masyarakat harus rela bersabar. Inilah yang mengubah lifestyle orang Jepang di musim panas ini. Bila sebelumnya salary man harus menggunakan jas saat bekerja, maka saat ini di kantor, kita akan menjumpai pekerja kantoran yang hanya menggunakan seragam kemeja tipis tanpa jas, karena pembatasan pemakaian AC. FYI, musim panas di Jepang katanya lebih panas daripada musim kemarau di Indonesia! Kebayang nggak sih kalau mereka tetap menggunakan jas saat bekerja... Pasti panas banget!

Bila sebelumnya komputer bisa menyala sampai pagi, maka kini penggunaannya pun dibatasi.

Hemat ala orang Jepang pasca kerusakan PLTN, menurut saya merupakan the power of kepepet. Karena suplai energi yang berkurang, maka masyarakat pun dituntut untuk ikut 'prihatin' dan memaklumi. Dan yang saya salutkan, hal ini berlaku hampir dimanapun saat saya mengunjungi Jepang Timur. Mulai dari kantor berita, universitas, bahkan kantor pemerintah sekalipun. Salut!


Blog EntryJun 21, '11 9:57 AM
for everyone
Hari ini saya berkunjung ke kuil Budha Zojoji yang berada tepat di depan Tokyo Tower. Di antara suasana metropolitan kota Tokyo, kuil ini berada di tengah-tengah kota.

Seperti kebanyakan kuil menjelang 7 Juli, banyak yang memasang pohon bambu dengan berbagai kertas harapan sebagai peringatan tanabata. Ada juga kuil tempat beribadah penganut Budha dimana di dalamnya terdapat biksu yang menjaga dan menjual jimat (omamori). 

Tapi yang menarik bagi saya adalah jejeran patung anak kecil yang berjejer di samping kuil. 
Patung-patung anak kecil itu dipakaikan topi rajut, di depannya terdapat vas bunga bertuliskan nama dan diisi air dan bunga, kemudian di depannya terdapat  kincir angin warna-warni. Saya pikir ini patung dewa-dewaan. Ternyata... ini adalah patung yang dibuat keluarga yang mengalami keguguran bayi untuk mengenang anak mereka tersebut. Di depan pintu masuk tersebut terdapat patung dewa yang bertujuan untuk menghibur arwah anak-anak ini. Di pintu masuk juga terdapat papan harapan yang berisi tulisan-tulisan harapan dari keluarga tadi supaya bisa memiliki anak lagi. 

Hal ini sangat menarik bagi saya. Di saat di Indonesia banyak terdapat berita bayi2 yang diaborsi dibuang ke got atau septic tank atas kehamilan yang tidak diinginkan, di Jepang bagi yang keguguran aja sampai dibuatkan patung seperti ini. Dan patung-patung ini walaupun bukan kuburan janin tersebut, tapi tetap dikunjungi untuk  didoakan. Satu hal dimana kehidupan dari sebuah awal kehidupan seorang bayi sangat berarti bagi keluarga-keluarga ini.


Blog EntryJun 20, '11 11:03 AM
for everyone
Dateng ke Tokyo, kayaknya nggak lengkap kalo nggak ke Tokyo Tower. Makanya setelah makan malam dengan menu sup, tempura, dan nantoka lobak, langsunglah saya dan beberapa kawan rombongan meluncur ke Tokyo Tower yang nggak jauh dari restoran makan malam. 

Berhubung malam, Tokyo Tower memancarkan lampu2 di menaranya. Warna lampunya bukan merah, tapi biru. Gue pikir tim sepak bola Jepang lagi tanding, nggak taunya karena di pelataran Tokyo Tower lg ada event UNHCR yg seragamnya biru2, jadilah warna lampunya ikutan biru. Btw, lampu Tokyo Tower memang nggak selalu merah. Saat tim sepak bola Jepang tanding, warnanya biru karena mengikuti seragam tim dan kadang2 (katanya) warna lampunya pink (uhuy!). 

Ada apa aja sih di Tokyo Tower (hmmm disingkat apa ya? TT?eh jangan, disingkat Toktow aja ya...)? 
Di dalamnya ternyata nggak cuma jendela-jendela doang, tapi ada juga live perform DJ, toko suvenir, toko kue, dan cafe. Di Foot Town alias lantai bawah ada Noppon's Magical Dungeon, Nipponland, Wax Museum, Space Wax, dll. Harga tiket untuk sampai di tengah2 menara atau main observatory (150 m), harganya 820 Yen. Kalo mau sampai special observatory (250 m) alias lantai paling atas, harga tiketnya nambah 600 yen jadi 1,420 yen. Gue pilih sampai atas dooong. mumpung di Tokyo. Sebenarnya ada juga paket komplit biar bisa dateng ke semua museumnya sekalian, harganya 1,800 yen. Tapi sayangnya sudah sold out saat malam itu.

Di Main observatory kita bisa lihat citylight kota Tokyo yang ruame dengan lampu2. 
Wuih, gedung2 tinggi bercampur dengan warna lampu mobil2 di jalan terlihat begitu indah. Turun tangga satu lantai, terdapat suasana remang2 dengan lampu-lampu kecil yang membentuk pemandangan amanogawa alias galaksi bintang. Haus? Di sana ada cafe lho... dan ada mini live stage yg saat itu sedang menampilkan DJ performance. Gue pikir DJ ajep2, ga taunya dia cuma muterin lagu2 requestan pengunjung. Gapapa lah, yang penting DJ nya hansamu alias ganteng. hehehe. Di lantai ini juga ada Lookdown window, semacam lantai tembus pandang sehingga kita bisa melihat suasana bawah menara tokyo tepat di bawah kaki kita.

Naik ke Special Observatory, di sana kita bisa melihat pemandangan citylight kota Tokyo lebih luas. Sebenarnya bisa juga melihat Gunung Fuji dan Gunung Tsukuba, tapi karena malam, ya gak kelihatan. 

Banyak juga toko suvenir di sini. Harga magnet bentuk TokTow mulai dari 350 - 480 yen. 
Pajangan bentuk Toktow sekitar 300-ribuan yen. Kaos tokyo tower mulai dari 1,500 yen. Makanan semacam tokyo banana juga ada mulai dari 500-an yen.

Btw, di Tokyo Tower, isinya kebanyakan org pacaran! Hahahha. org2 abis pulang kerja pacarannya di sini. Yang cowok pake baju kantor, ceweknya pake baju gaowl.Posenya? gantengan tangan atau sekalian peluk-pelukan. Alamaaak. Kata siapa org Jpg kalo pacaran kaga romantis? Lahh iniii? Selain org pacaran, banyak juga turis yg ke sini, terlihat banyak bule di sini. 

Memandangi Tokyo citylight memang asik buat berlama-lama, cuma kalo mau foto2, lebih baik pakai night mode karena penerangannya memang kurang. Besok saya mau ke jalan-jalan di depan kuil Tokyo Tower sebelum berangkat ke Utsunomiya. Tunggu kabar selanjutnya yaaaa :)





Blog EntryJun 19, '11 10:25 AM
for everyone
Kalau orang nyasar di kota, mungkin sudah biasa. Tapi kalau orang nyasar di stasiun kereta api, hasilnya jadi kayak sinetron Inikah Rasanya Alyssa Soebono. Drama.

Karena hari ini kegiatan Jenesys masih nyantai, akhirnya saya dan teman-teman rombongan memutuskan untuk jalan-jalan ke Shinjuku sehabis makan malam. Apa yang menarik di Shinjuku? Saya pun sebenarnya tak tahu, saya hanya penasaran karena daerah ini terkenal sebagai kawasan gaul (juga karena menjadi setting film Jackie Chan) dan saya kira juga daerah ini menyatu dengan Shibuya dan Harajuku. Tapi ternyata tidak, dari Shinjuku ke Shibuya harus naik dua kereta lagi dari Shinjuku.  Yasudah, jalan-jalan saja di Shinjuku.

Tapi baru keluar dari kereta Iidabashi, di Stasiun Shinjuku kita sudah nyasar karena rombongan orangnya pada terpencar, mungkin karena Nagayama-san yang nganterin kita ke Stasiun Shinjuku jalannya cepat (ya ala org Jepang lah), sedangkan kita kan jalannya lemah lembut a.ka nyantai, jadilah ada orang yang tertinggal. Beda dengan Iidabashi yang sepi, Shinjuku ternyata ruame banget! Apalagi itu hari minggu dimana banyak muda mudi nongkrong. Stasiun Shinjuku penuh dengan orang lalu lalang dan line nya banyak bgt! Lebih dari 14 line. Berarti gede banget ya ntu stasiun.

Ilang di Stasiun Shinjuku, pastinya bikin panik. Gak ada satpam di dalam karena isinya kebanyakan mesin (beli tiket pake mesin, masuk line pake mesin periksa karcis, mana petugasnyaaaa?), anak-anak muda jepang nampak sibuk dengan 'gengnya', dan jarang yang bisa bahasa Inggris, bingung deh mau nanya ke siapa. Mikirin org hilang di Stasiun ini bikin stres, apalagi  krn kita turis yang baru aja kenal kemarin, kita belum punya nomer hape masing2. Huweeeee....


Tapi akhirnya setelah menunggu sekitar hampir setengah jam, kita ketemu lagi setelah salah satu rombongan menelpon 'rombongan yang hilang'. Dampak dari kesasar di stasiun, berarti waktu jalan-jalan jadi berkurang. Kita cuma jalan-jalan satu blok di Shinjuku (uapaaaaa?) dan belanja di Hyaku en Shop (toko serba 100 yen, termasuk pajak jadi 105 yen). Setelah itu langsung balik ke stasiun.

Balik pulang ke stasiun, drama belum berakhir.Setalah disuguhi pemandangan anak-anak muda Jepang yang lagi mabok, kita kebingungan nentuin tarif karcis yang akan kita pakai untuk naik kereta. Sebelum pulang, Nagayama-san hanya menyuruh kami naik kereta yang sama untuk pulang dan naik dari Line 13. Tiketnya, emang beda ya...? Rombongan ri,weuh lagi. Liat-liat peta subway yang alamak kanji semua. Owalaaaah... Tapi setelah tanya2, ternyata tiketnya sama dengan yang pertama kita beli, yaitu 150 yen.

Dapet tiket, ternyata keretanya baru datang, langsung deh kita ngacir masuk ke dalam.
Pas naik kereta, kita juga masih was-was apakah kereta yang kami naiki arahnya benar. Hufft. Tapi perasaan lega langsung datang saat kita sampai di stasiun yang kita tuju, yaitu Iidabashi.

Tips jalan-jalan pake transportasi umum:
1. Lebih baik rombongan kecil saja, semakin besar rombongan semakin banyak kemauan yang berbeda-beda dari tiap orang untuk mau pergi kemana.
2. Sebenarnya peta subway Jepang cukup jelas, hanya saat di stasiun kadang kita harus tanya-tanya naik kereta dari line berapa
3. Jangan panik kalau tersasar, orang jepang bisa ditanyai kok walaupun tidak bisa bahasa inggris, cukup tunjuk daerah yang ingin dituju dan gunakan bahasa Tarzan. hehe.

Bai de wei, menurut gue Shinjuku sangat menarik. Banyak muda-mudi dengan dandanan stylish dan make up kayak boneka di sana ;D
dan.... banyak cowo ganteng! Hahahaha.

ada juga anak2 dandanan cosplay di sana...





Blog EntryJun 18, '11 10:24 PM
for everyone
*kalo Anda orgnya geuleuh-an, mending nggak usah baca tulisan ini.




Saya sudah sering mendengar cerita tentang betapa canggihnya toilet di Jepang. Banyak tombol yang bakal bikin penggunanya yang berasal dari luar Jepang jadi gelagapan cuma gara-gara buang air kecil. Gak mau jadi orang gaptek saat di toilet, bikin saya survey dan benar-benar kudu tau tentang penggunaan toilet. Dari info-info yang saya baca. Di kloset Jepang terdapat banyak tombol yang bisa digunakan pasca buang air, yaitu tombol untuk bidet dengan lambang perempuan memakai rok, tombol shower untuk cebok sehabis BAB, dan tombol stop. Ada juga kloset yang memiliki tombol pengering (luangkan waktu Anda untuk mengeringkan pant*t!) dan tombol suara air (klo ditekan bisa mengeluarkan suara flush untuk menyamarkan suara prat pret preet). 

Merasa sudah 'jago', saya pede menggunakan kloset Jepang di hotel saya menginap. Sehabis melunasi panggilan alam, saya coba tombol satu-satu. Kagum juga sih akan 'keakuratan' pancuran kloset ini. Tisu toilet tinggal dicemplungin ke dalam kloset karena katanya tisu toilet di Jepang larut dalam air. Ngerasa berhasil menaklukkan tombol-tombol kloset canggih ini, saya pun bangga.
Sampai akhirnya... saya baru sadar...
"Kok nggak ada tombol flush nya, ya?"
Saya tengok-tengok kanan kini kloset, dimana yaaaa... Saya coba tombol di kloset satu2, nggak ada efeknya. Wuaduh... Masa' saya harus telpon housekeeping buat nanya, "Saya abis pipis, tapi nggak bisa nyentor. Bantuin dong..". Tapi kalo dianggurin, ntar bau. 
Akhirnya saya tutup pintu toilet, kali aja kayak toilet di Eropa, sistem sentornya baru berjalan saat pintu toilet ditutup. Ditinggal satu menit, nggak ada efek. Laahhh, diapain ya biar nge-flush? Akhirnya saya telpon kamar teman sebelah,
"Eh, nge-flush nya gimana sih?"
"Itu ada besi di sampingnya."
dia bolak-balik ke WC nya buat ngecek. Saya pun nengok ke toilet ngecek besi tersebut.
"Lah, kloset gue kok nggak ada besinya?"
saya mulai berpikir kalau kloset saya abnormal dari kloset kamar lain dan petugas hotel datang "Haik, saya betulkan klosetnya" Huwaaaa jangan, belum disentooor. 
"Itu ada di samping tombol emergency!" jelas teman saya meyakinkan.
Saya nengok toilet lagi.
Alamaaaak.... ternyata tombol flushnya itu nempel di tembok, bukan di klosetnya. Terbuat dari besi yang cuma bertuliskan merek INAX. Mana saya tau kalau itu tombol flush... Mungkin ditaruh nempel di dinding biar bisa langsung di-flush saat masih duduk. Nggak kayak kalo flush-nya dtaro di belakang punggung sehingga kalo mau flush, kudu berdiri dulu.Hahaha. Ada kali tuh 10 menit lebih cuma buat saya nyari-nyari cara buat nge-flush.

Baiklah baiklah....mari sekalian kita tengok sistem toilet di Jepang lainnya selain kloset.
Di Metropolitan Edmont Hotel, shampoo, conditioner, sama body soap diisi dalam botol besar. Jadi kita nggak bisa nilep bawa pulang seperti yang sering dilakukan di hotel di Indonesia. Memang peraturan hotel Jepang seperti itu kali ya. Di dalamnya disediakan piyama dan sendal slipper kulit, tapi ya itu dia, gak boleh dibawa pulang. 
Di samping wastafel ada hand soap yang sekaligus bisa dipakai buat face soap, bentuknya foam gitu. Kalau bukan karena saya sedang perawatan kulit muka sama dokter, saya pake deh ntu foam buat muka, kali aja mereknya Shiseido. Fufufufu...

note: sorry gambarnya banyak yg nggak ke-rotate, ntr diedit deeh..

Blog EntryJun 9, '11 9:42 AM
for everyone
Melihat pemberitaan seputar Yaman yang sekarang makin heboh di tivi-tivi soal protes kepada presidennya, gue jadi tertarik untuk menuliskan pengalaman gue waktu mendapat bonus trip satu hari dari Yemenia Airways pada awal Maret 2011. 

Yaman, yang terbayang oleh gue adalah negara timur tengah, itu thok. Nggak ada bayangan apa tempat pariwisata menariknya, seperti apa negaranya, dll. Yang gue tahu, negara itu sedang bergejolak karena ketidakstabilan politiknya akibat protes. Saat itu beritanya blm seheboh sekarang, walaupun dimana-mana ada tentara bawa senapan. Tapi tentara-tentara itu nampak kucel. Nggak ada wibawa atau serem-seremnya. Persis polisi Indonesia kalo lagi nggak ada kerjaan barijeung tunduh. Muka capek dan ngantuk. Bahkan saat gue lewat di jalan, gerombolan tentara itu lagi makan nasi bungkus (iya, sepertinya nasi atau roti bungkus) rame-rame di samping tank sambil JONGKOK! Saat gue tanya guide yang disediakan hotel tentang heboh-heboh gejolak politik di sana, apakah bakalan ada demo atau kerusuhan, dia bilang: "Lokasi yang akan kita datangi nanti bukan daerah demo, dan demo-demo itu biasa aja nggak seheboh yang diberitakan." Yang saya tangkap sih, isu politik di sana nggak penting-penting amat. Padahal kota yang saya datangi adalah Sana'a, ibu kota, pusat pemerintahan, dan kota terbesar.

Kesan pertama saya terhadap Sana'a adalah kumuh dan sepi. Setibanya di Sana'a pada malam hari, jalanan luar biasa sepi.Yang terlihat 99% adalah pria. Jalanan gelap karena nggak banyak lampu. Rumahnya kotak-kotak aja tanpa genteng, tanpa pagar, tanpa hiasan-hiasan. Cuma kotak rumah dan jendela pintu yang kotak juga. Beberapa wanita terlihat di cafe sebelah hotel, wanita-wanita itu nggak pake kerudung, beda sama imej wanita Yaman yang biasa gue lihat di koran. Wanita-wanita bercadar dan berjubah hitam baru kelihatan saat siang hari, itu pun sedikiiiiit banget. Mungkin wanita Yaman kebanyakan di rumah.

Yaman memiliki tempat wisata yang (sebenarnya bisa) menarik perhatian Turis, apalagi Turis muslim, karena memiliki spot-spot tempat wisata yang memiliki nilai sejarah Islam. 

1. Ka'bah kedua
Konon Raja Abrahah yang berotak bisnis, pengen banget ngalahin kejayaan Ka'bah di Mekkah. Dia berpikir semua orang datang ke Mekkah karena ada Ka'bah sehingga tempat tersebut menjadi kaya. Akhirnya dia membangun Ka'bah kedua di kota tua di Sana'a. Dia menyimpan berbagai macam harta, emas, perhiasan, dll, di sana dengan harapan orang-orang akan datang ke sana dan Sana'a menjadi kaya. Padahal orang datang ke Ka'bah yang ada di Mekkah kan bukan karena ada harta atau emas di sana, tapi untuk menjalankan ibadah umroh dan haji. Abrahah marah, makanya pengen menghancurkan Ka'bah. Cerita selanjutnya ada di QS Al-Fiil (pasukan Gajah), yaitu pasukan Abrahah yang diazab dengan batu dari neraka. 
Penasaran dooooong, kayak gimana sih Ka'bah yang dibangun oleh Abrahah itu. eh, gak taunya, yang kita lihat sudah tinggal lubang seperti sumur kering yang kurang lebih berdiameter 3 meter. Isinya: rumput dan sampah. Pas ditanya, "Lah, harta-hartanya mana?", guidenya menjawab, "Setelah Abrahah meninggal, orang-orang mengambil harta tersebut dan sekarang jadi tempat pembuangan sampah." Alamaaaaak, historical site dijadiin tempat pembuangan sampah.

2. Old City
Yaman bisa dibilang negara Islam. Tapi dulu Yahudi memiliki perkampungan di sana. Old City ini salah satunya. Arsitekturnya mirip kayak di film Aladin. Ciri-ciri rumah tinggal orang Yahudi adalah pintunya yang memiliki simbol bintang segi enam seperti bendera Israel. Di dalamnya ada pasar tradisional yang menjual rempah, gambia (golok khas Yaman),  suvenir, kismis, dan makanan tradisional. Old city ini sebenarnya menarik, tapi kumuhnya minta ampun, banyak sampah dan banyak pengemis (kebanyakn perempuan bercadar seadanya) yang kalau minta-minta bisa ngikutin kita sampai beberapa meter. Apalagi gue dan rombongan diwanti-wanti untuk jangan terpisah dari rombongan karena di pasar old city banyak copet. Dan memang sih, entah apakah karena jarang ada turis yang datang ke Yaman akhirnya rombongan kami diliatin terus dan ditawar-tawarin barang. Gue pikir karena Yaman negara miskin, harga suvenir bisa lebih murah dari Arab. Ga taunya malah mahal. 1 magnet kulkas aja klo dikurskan ke rupiah bisa mencapai 30ribu. Sengaja dimahalin karena kita turis? Nggak tau ya.

3. Bekas Istana Ratu Bilqis-nya Nabi Sulaiman
ingat ya, BEKAS. Sehingga yang kelihatan cuma tanah bukit tandus. Nggak ada apa-apanya. Saat guide menjelaskan tentang istana Ratu Bilqis kita hanya bisa menerka-nerka seperti apa tempatnya. Secara gitu ya, Ratu Bilqis kan nggak kalah kaya dari Nabi Sulaiman yang istananya disebutkan Al-Qur'an megah banget. Di samping tempat BEKAS Istana, terdapat satu bangunan besar bergaya rumah Arab kotak yang katanya sih museum. Gue penasaran banget buat masuk, tapi ternyata rombongan nggak masuk kesana. Mungkin kudu bayar tiket, sedangkan ini kan trip gratis karena kita transit di Sana'a aja. 

4. Gua Ashabul Kahfi
Ashabul Kahfi adalah orang-orang yang berusaha untuk menyelamatkan diri dari pasukan Romawi (atau pasukan raja apaaaa gitu), mereka kemudian sembunyi bersama seekor anjing mereka di gua dan tertidur. Pas bangun-bangun, ternyata mereka sudah tertidur selama ratusan tahun! Anjing mereka sudah mati (ada yang mengatakan anjing mereka masih hidup tapi dalam keadaan yang sudah sangat tua). Kota sudah berubah dan mata uang mereka sudah tidak berlaku. Raja yang mengejar mereka pun sudah mati. 
Lagi-lagi nggak ada penjelasan spesifik apakah gua tersebut benar-benar gua Ashabul Kahfi karena cuma gua doang. Bahkan ada yang bilang, gua ashabul Kahfi itu sebenarnya ada di Turki. 

baiklah, baiklah... daritadi ceritanya tentang tempat wisata yang nggak asik mulu. mari kita ke tempat wisata yang asik, dan menurut gue ini merupakan bangunan paling megah di Yaman. 

5. Masjid Al-Saleh
Besarnya memang nggak sebesar Istiqlal, tapi mewahnyaaaaa wow banget. Karpetnya dari Turki, ada juga aksesoris dari Mesir, arab, dll. Kiblat masjid menghadap ke Rukun Yamani Ka'bah. Kubahnya spektakuler, ada kaca-kaca mozaik yang cu'co gitu didalamnya. Adem banget berlama-lama di sana. Di sekitar halaman masjid pun ditanami banyak bunga yang terawat (pemandangan langka di Yaman). Saat itu masjid sedang sepi karena sedang waktu dhuha. Kalau waktu solat fardhu, masjid ini ditutup untuk turisme, karena digunakan untuk solat penduduk. Bisa dibilang Masjid AlSaleh adalah Masjidil Haram versi Yaman.

Ada kejadian menarik di Yaman yang dialami oleh tante gue. Dari jendela hotel, istana kepresidenan Yaman terlihat kerlap kerlip saat malam hari. Karena pemandangannya bagus, tante gue mengambil foto dari dalam kamar. Gak taunya, beberapa saat kemudian datang tentara bersenapan ngetok kamar tante gue. Ternyata blitz kameranya ketahuan dan ditanya ngapain ngambil foto istana presiden. Tante gue nggak lancar bahasa Inggris, tentaranya juga bego bahasa Inggris. Lalallalalala.... akhirnya masalah beres setelah fotonya dihapus. Tante gue disangka mata-mata oposisi! Hahahaha. Sejak saat itu kita baru tahu kalau motret istana presiden itu dilarang. Oalaaaah... 

Satu hal yang worth it untuk dibeli di Yaman adalah madu Yaman yang terkenal itu. Madunya terdiri dari bermacam-macam jenis. Yang paling mahal adalah madu putih yang katanya telah melewati berbagai macam penyaringan sehingga bisa mencerdaskan otak anak (whew!). Madu Yaman lebih manis dari madu Indonesia karena lebahnya bukan menghisap bunga, melainkan menghisap kurma. Tau kan kurma manisnya kayak apaaaaa... Gambia sebenarnya juga cukup antik buat jadi suvenir, tapi sayangnya gambia suka nggak lulus screening saat pemeriksaan kalau kita bawa tas dalam kabin. Opsi lainnya adalah kismis Yaman yang katanya juga terkenal manis, harganya nggak terlalu mahal.

Melihat Yaman, gue jadi bersyukur hidup di Indonesia. Yaman lebih sepi daripada kabupaten Jateng yang gue lewati saat mudik, lebih ndeso, gersang, dan lebih miskin. Pengemisnya dimana-mana menandakan betapa miskinnya negara tersebut. Yaman sebenarnya penghasil minyak yang besar, namun rakyatnya cuma bisa menikmati sedikit saja karena pemberlakuan kebijakan internasional (embargo gitu ya namanya) yang membatasi produksi minyak dalam negri. alhasil 60-70% minyak Yaman dikelola oleh Arab Saudi. Sebagai timbal balik, Saudi memberikan pelayanan kesehatan dan fasilitas lain untuk Yaman. Namun tetap nggak bisa memberikan kemakmuran untuk negara tersebut.

Saat ini, Yaman semakin bergejolak. Bahkan kata temen gue yang ceweknya adalah pramugari Yemenia Airways, dimana-mana ada pemeriksaan tentara. Kerusuhan dan demo ada dimana-mana. Satu hal yang sangat disayangkan karena katanya protes itu muncul akibat kesenjangan sosial antara pejabatnya yang kaya-kaya dengan keadaan masyarakatnya yang miskin. 

Semoga aja Indonesia nggak kayak Yaman walaupun di Jakarta udah kelihatan banget kesenjangan antara si kaya dan si miskin...





Blog EntryMay 28, '11 1:30 PM
for everyone
Hari ini bisa dibilang Bandung macet hampir dimana-mana. Mmm... mungkin memang tiap weekend Bandung macet, makanya gue selalu kabur ke Jakarta atau Jatinangor klo weekend atau diem di rumah. Tapi apesnya, hari ini gue kudu ngajar di daerah yang untuk menuju sana kudu melewati spot-spot macet. 

Tiap hari macet, gue selalu mendongkol dalam hati. Bete akan Bandung yg skrg macet dimana-mana. Bahkan di antapani yang daerah sawah-sawah aja sekarang udah mulai macet di Jl. Jakarta nya. Aseeem! Bukan itu saja. tiap Jumat sore gw harus nrimo klo pasopati dan cicadas macet.

Dalam kemacetan ini biasanya otak gw suka menelaah-menelaah apa saja yang bisa dilakukan Bandung untuk terhindar dari macet, secara jalanan di Bandung itu kecil-kecil, gak mungkin pelebaran jalan dilakukan. Kalo sampai dilakukan (seperti Jl.Surya Sumantri yang katanya mo dilebarin segede jidatnya Uta), berarti trotoar bakalan ilang. Karena kanan kiri udah penuh sama toko.

Mungkin yang harus dibuat oleh pemkot Bdg adalah jalur khusus sepeda motor. Hell yeah, jalur sepeda yang menghabiskan dana pemerintah tahun lalu itu ternyata nggak efektif. Jalur itu ternyata nggak sepenuhnya 'bersih'. Pesepeda pun kebanyakan nyelonong aja di jalan 'abu-abu' atau naik ke trotoar yang lebih aman dari kendaraan bermotor. Dan heyyyy, yg gw liat kebanyakan pesepeda eksisnya cm saat di car free day. Apakah campaign untuk mari bersepeda berhasil? Jalur sepeda motor 'menurut gue' bisa bikin pesepeda motor jadi nggak perlu nyalip2 di antara mobil yang jalannya 'lebih lambat'. Untungnya pengguna mobil, nggak perlu greget gara2 takut ada motor nyelonong. 

Trans Bandung a.ka Busway nya Bandung? Kaga mungkiiiiin. Yg ngebedain Trans Bdg dan bus lain adl krn Trans cm berhenti di halte. Apakah sudah menarik minat org untuk menggunakannya? Ummm... tidak pada gue. Trans bdg ngetem sangat lama di pool nya. Menyisakan jalan untuk dibikin busway juga nggak mungkin krn jalan di Bdg sudah cukup sempit dan padat kendaraan.

Angkot way? Dulu sempat heboh mo direalisasikan? Kenyataannya? Pemkot lebih takut sama demo tukang angkot.

Monorail? Wkt gw SMA katanya 2010 mo dibangun monorail di Bdg. Hmmm... kita lihat jakarta.

Actually, monorail atau subway merupakan pilihan yg paling oke kalau Bdg mau mengurangi kemacetan. Cepat, punya jalur sendiri, dan nggak ngetem. Transportasi umum di Bdg bisa dibilang nggak layak, kita hanya menggunakannya bukan untuk kenyamanan, tp lbh ke penghematan dan 'terpaksa'. Tapi, dengan semakin murahnya cicilan motor dan mobil, apakah 'penghematan' ini bisa berlangsung lama demi menghargai org yg semakin terburu-buru dengan waktu? Lihat Damri, asap knalpotnya jd sumber polusi paling utama di jalanan kota Bandung. Bahkan melihat bus Tanjung sari dan Leuwi panjang-dago yang mirip sama akuarium di panasnya siang hari, dijamin cewek-cewek kantoran bakalan lebih minat nyicil motor atau minta pacarnya jadi tukang ojek. Angkot? Hell, saat gue masih kuliah, angkot adalah teman, tapi saat gue mulai ngantor dan harus bisa wira wiri ke berbagai tempat 'sesuai' waktu, angkot bukan teman yg bisa dipercaya. Jalurnya muter-muter nggak efektif, sopirnya nggak menghargai waktu, ongkos sehari sama dengan harga bensin seminggu.

Apabila dalam lima tahun ke depan Bandung belum membentuk transportasi umum yang layak dan efisien, mungkin saat weekend, we're better at home. Atau mungkin, we're better to find an online job, so we're not have to go outside.

Blog EntryMay 20, '11 10:28 AM
for everyone
Gw baru saja menyaksikan Kongres PSSI yang ditayangkan secara langsung oleh TV one. Yg gw tonton sejak pukul 5 sore, ni kongres gak jelas ngomongin apa. Pokoknya interupsiii mulu.Belakangan gw dikasih tau klo kongresnya udah mulai sejak jam 2 siang. saking banyaknya interupsi, antar peserta kongres mulai saling berusaha menenangkan. Padahal itu sebenarnya tugas pimpinan kongres. Peserta yg kebanyakan bapak-bapak berjas itu kalo ngomong selalu dengan suara keras dan (meureun) lantang, padahal di depannya ada microfon. ternyata yang bikin kongres ini jadi riweuh adalah karena tidak diperkenannya George Toisutta dan Arifin Panigoro untuk mencalonkan diri sebagai ketua umum PSSI. Padahal dua orang tadi diharapkan bisa membawa perubahan untuk persepakbolaan Indonesia. George dianggap memicu kisruhnya kongres PSSI sebelumnya, sedangkan Panigoro dianggap 'nakal' karena mengadakan LPI. Terlepas dari kedua tokoh tadi, kok gw bukannya kasihan sama dua org tadi, tp malah kasihan sama calon ketua umum lainnya. Udah capek2 daftar dan kampanye sesuai jalur, tp tetap saja yg disorot cuma dua org tadi. Hahahaha...

Well, ngeliatin bapak-bapak kongres ini marah-marah dan ribut saat kongres dihentikan oleh Agum Gumelar bikin gw ngakak. Ya ampuuuun, kongres dihentikan kan karena sikap peserta kongres yang nggak tertib juga. mustinya mereka malu dan bisa menggunakan otak dingin (bukan otak-otak ikan tenggiri). Ngeliatin kelakuan mereka bener-bener bikin malu.

dan yang gue lihat, dunia politik dan kelakuan para pejabat Indonesia sekarang ini, makin lama kok makin kayak ludruk. Kongres PSSI td adalah salah satu contohnya. Soal Komisi 8 dengan "komisi8@yahoo.com", ketua dewan nonton bokep saat sidang paripurna, sampai pernyataan pejabat DPR ttg "Pembangunan gedung DPR yg baru ini adalah sebagai bukti bahwa DPR tidak korupsi!" What theee...?! 

dulu gw pernah mikir, acara TV yang bikin politik dalam negri sebagai guyonan seperti democrazy, dll, cuma brani ngomong doang tp ga ngasi perubahan. Ngata-ngatain tp ga terjun langsung memperbaiki negri. Tapi yah, akhirnya sekarang gue ngerti, apa yg dilakukan org2 di balik tayangan democrazy itu hanya simulasi dan reka ulang dari apa yang terjadi di panggung politik Indonesia.


Blog EntryMar 23, '11 10:41 PM
for everyone
Beberapa hari ini suasana kantor menjadi agak sedikit mencekam bagi saya sejak muncul perilaku-perilaku senioritas dari beberapa orang melalui kicauan di twitter. Actually, sebelumnya saya merasa fine-fine saja. Walaupun saya baru bergabung sekitar setahunan yang lalu, tapi ternyata kantor saya ini tidak seperti kantor-kantor lain yang sering dibicarakan banyak orang banyak terjadi iijime atau penindasan dari kalangan senior sebagai ucapan 'selamat datang' pada anak baru. Kantor saya ini bisa dibilang happy station dimana senior2 baik-baik saja terhadap anak baru. Walaupun sebagian kru sulit didekati karena (mungkin) termasuk orang yang cuek dengan kedatangan anak baru. Toh saya pikir, mungkin saya nya yang harus mendekati duluan. That's fine. Suasana aman dan nyaman.

Waktu berlalu dan saya yang sebelumnya adalah junior, kini mulai menemui kedatangan kru-kru baru di kantor. Berhubung saat awal saya masuk, saya juga tidak menemui masa ospek dari senior lama, ya saya pikir tidak perlu lah saya meng-ospek anak-anak baru ini. Tugas kita sebagai senior adalah untuk berbagi ilmu yang telah kita punya kepada anak baru.

Tapi, suasana aman dan nyaman itu mendadak terusik sejak saya disebut sebagai "orang baru" melalui kicauan seorang senior. Aw... saya baru sadar, sudah setahun saya ada di kantor, ternyata statusnya masih sebagai "orang baru" thoo.. Kemudian muncul kicauan-kicauan lainnya yang memunculkan kata senior-junior, orang lama-orang baru. Hmmm...

Selidik punya selidik, ternyata banyak "senior" yang merasa masuknya angkatan saya ini sebagai angkatan yang "enak banget sih lo gampang banget jadi kru, dulu kita tuh diospek dulu, dimarah-marahin dulu, mo jadi kru tuh sussssaaaahh". Hmmm, naruhodo. Wakatta.
Lalu saya merenung sejenak, kenapa hal mudah harus dibuat susah?

Well, akhirnya saya mulai membuka-buka lagi KBBI.
Menurut KBBI online:
seniorse.ni.or
[a] (1) lebih tinggi dl pangkat dan jabatan kedinasan (pegawai, karyawan, dsb): seorang diplomat -- diangkat menjadi duta besar; (2) lebih matang dl pengalaman dan kemampuan; (3) berada dl tingkat sarjana bagi mahasiswa dan kelas terakhir bagi pelajar SMU dan SLTP; (4) lebih tua dl usia bagi dua orang (ayah dan anak) yg sama namanya (nama famili)
seperti yang kita lihat, senior itu adalah orang yang "lebih". Lebih tinggi jabatannya, pengalaman, kemampuan, ataupun usia. Lalu apakah yang dimaksud dengan senioritas?
senioritasse.ni.o.ri.tas
[n] (1) perihal senior; (2) keadaan lebih tinggi dl pangkat, pengalaman, dan usia; (3) prioritas status atau tingkatan yg diperoleh dr umur atau lamanya bekerja
tidak ada definisi bahwa senior bebas untuk meng-iijime junior. 

Well, saya pun pernah menjadi senior yang rese' selama masa kuliah. Memegang prinsip "junior harus menghormati senior". Menjadi senior yang paling vokal marah-marahin junior yang ngelunjak, sampai akhirnya mengalami titik balik saat dosen saya menyatakan bahwa "ospek atau perploncoan merupakan budaya feodal Belanda saat penjajahan Indonesia".
Ingin dihormati bukan berarti harus bersikap feodal yang kuno.
Tegas bukan berarti harus marah-marah.
Orang baru bukan berarti minim ilmu.
Berumur lebih tua hanya berarti lebih lama pengalaman dalam menjalani hidup di dunia.

Pages:1234567